Home > Pernak-Pernik Agama > Bukan Sandiwara Seorang Keponakan

Bukan Sandiwara Seorang Keponakan

kelereng

gundu

Masih dengan tema belajar dan bermain bersama Dimas. Keponakanku, ngajinya sih sekarang sampai jilid 2. Terik matahari tak menyurutkan semangat mainnya. Berguling-gulingan dengan si Lupus, kucing kesayangannya yang setia menungguinya bermain. Meski tak jarang si Lupus dapat perlakukan yang TERLALU istimewa dari Dimas. Kadang dilempar-lempar ke atas, dipukul, dicuci, diperas, diancam, dikasih makan dedaunan >.< atau dicuekin. *kasian kali kau kucing.

Dan sembari memanggil namanya, ku hampiri Dimas yang sedang mencekik si Lupus. [*Dimas terkekeh-kekeh, sedang si Lupus megap-megap minta napas].

“Sudah pulang sekolah Dim?” tanyaku iseng.

“Udah” jawabnya cuek sembari nyari kutu di tubuh si Lupus. *cieleeeehhh…. sok cuek banget.

“Udah makan?”

“Udah!!”

“Lauknya?”

“Soto”

“Terus, kucingnya dikasih makan apa tadi?”

“Iwak” jawabnya sambil terkekeh-kekeh memegangi si Lupus.

Lanjut Gan….., sebenarnya satu hal tujuan saya menghampiri dia main, yakni melemparkan sebuah pertanyaan yang mendasar bagi setiap MANUSIA. Sebuah pertanyaan yang akan menunjukkan sebuah aqidah yang masih suci (fitrah manusia), yakni sebuah pengakuan keimanan kepada Tuhannya. Sebuah pertanyaan yang telah hilang dari sebagian dada-dada kaum muslimin, tentang Istiwaa Allah. O_o

“Dimas, Tuhan (Allah) itu ada dimana?” tanyaku sembari mbantuin nyari kutu.

“Di langit” jawabnya sambil menengadahkan wajah coreng morengnya ke langit.

*Subhanallah….. inilah persaksian besar dari seorang Hamba kepada Rabbnya yang Mulia. Sebuah persaksian besar yang Allah tanamkan di dalam dada-dada setiap manusia saat masih di dalam kandungan. Inilah jawaban atas fitrah manusia yang masih suci. Kaum kafirin dan musrykinpun mengimani adanya Dzat Allah, sebab tauhid Rububiyah merupakan tauqid fitriah, fitrah pada setiap Manusia. Dan tentang Istiwaa ‘alal ‘Arsy, itu fitrah yang Allah fitrahkan atas setiap makhluknya, baik yang kafirin dan musrykin. Maka, lihatlah dengan mata dan kepala kita, dan dengar dengan kedua telinga kita ketika orang-orang khuffar dan musyrikin berdoa, “Yaaaa Tuhaaann!” kemana mereka mengangkat kepalanya? Kemana hatinya condong untuk meminta? Ke Bawahkah? Ke samping kanan dan kiri kah? atau Ke Atas? Subhanallah, inilah fitrah manusia yang suci.

Rasulullah shalallahu’alaihi wa salam, pernah bertutur kata

Setiap anak lahir di dunia atas fitrah al islam, maka kedua orangtuanya lah yang merubah dia menjadikan dia yahudi, nashara, dan majusi. [Hadits Shahih dikeluarkan Bukhari no. 1358, 1359, 1385, 4775 dan 6599 dan Muslim juz 8 hal, 52-54 dan lain-lain Imam ahli hadits]

Alhasil, kudaratkan kecupan ringan di ubun-ubunya. Meskipun bau rambutnya masih khas, bau trasi yang bercampur keringat. :)

“knapa lho pak Bagus?” tanyanya kepadaku sembari tangannya yang mungil mencari kutu.

“ndak ada apa-apa kok, main lagi gih. Kucingnya jangan dibunuh lho ya?” jawabku sembari mengelus rambutnya yang tipis dan beranjak pergi meninggalkannya.

langit

langit

Wahai sahabat-sahabatku, Al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam beberapa ceramah ilmiah dan karya tulisnya telah menjelaskan salah satu kaidah besar aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang mulai hilang dari dada sebagian kaum muslimin, yaitu tentang istiwaa Allah di atas Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya.

Berfirman Allah ta’ala dalam kitabnya,

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy [QS. Thaaha: 5]

Sehingga bila kita bertanya kepada sebagian saudara-saudara kita, di mana Allah? Maka kita akan dapati dua jawaban yang bathil bahkan sebagiannya kufur! Yakni.

  • Allah ada pada diri kita ini !
  • Allah di mana-mana dan di segala tempat !

Jawaban yang pertama berasal dari kaum wihdatul wujud (kesatuan wujud Allah dengan manusia) yang telah dikafirkan oleh para Ulama kita yang dahulu dan sekarang.

Sedangkan jawaban yang kedua keluar dari kaum Jahmiyyah (faham yang menghilangkan sifat-sifat Allah) dan Mu’tazilah, serta mereka yang sefaham dengan keduanya dari ahlul bid’ah. Atau kadangkala ada yang sebagian menjawab, Allah itu tak bertempat.

Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah.

Artinya: “Beliau bertanya kepadanya, “Di manakah Allah? Jawab budak perempuan: “Di atas langit. Beliau bertanya (lagi): “Siapakah Aku……?” Jawab budak itu: “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda: “Merdekakan ia! karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”. [1]

Hadist di atas merupakan cemeti dan petir yang menyambar di kepala dan telinga ahlul bid’ah dari kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah dan yang sefaham dengan mereka, yaitu dari kaum yang mempunyai i’tiqad (berpendapat): “Allah berada di tiap-tiap tempat atau allah berada dimana-mana….!?”

Katakanlah kepada mereka jika demikian, jika Allah berada dimana-mana tempat, maka Allah berada di jalan-jalan, di pasar-pasar, di tempat kotor dan berada di bawah mahluknya?

Dan sungguh;

“Maha suci Engkau! ini adalah satu dusta yang sangat besar” (An-Nur : 16)

“Maha suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan ” (Al-Mu’minun : 91)

“Maha Suci Dia! Dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar”. (Al-Isra : 43)

Dan, Firman Allah ‘Azza wa Jalla.

Artinya: “Apakah kamu merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit, bahwa Ia akan menenggelamkan ke dalam bumi, maka tiba-tiba ia (bumi) bergoncang?” (Al-Mulk: 16).

“Ataukah kamu (memang) merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit bahwa Ia akan mengirim kepada kamu angin yang mengandung batu kerikil? Maka kamu akan mengetahui bagaimana ancaman-Ku”. (Al-Mulk: 17).

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah setelah membawakan dua ayat di atas di kitabnya “At-Tauhid” (hal : 115). Artinya: “Bukankah Ia telah memberitahukan kepada kita -wahai orang yang berakal- yaitu apa yang ada di antara keduanya sesungguhnya Ia di atas langit”.

Berkata Imam Abul Hasan Al-Asy’ary di kitabnya “Al-Ibanah Fi Ushulid-diayaanah hal: 48 setelah membawakan ayat di atas: “Di atas langit-langit itu adalah ‘Arsy, maka tatkala ‘Arsy berada di atas langit-langit. Ia berfirman: “Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang berada di atas langit?” Karena sesungguhnya Ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy yang berada di atas langit, dan tiap-tiap yang tinggi itu dinamakan ‘As-Samaa” (langit), maka ‘Arsy berada di atas langit. Bukankah yang dimaksud apabila Ia berfirman: “Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang diatas langit?” yakni seluruh langit! Tetapi yang Ia kehendaki adalah ‘Arsy yang berada di atas langit.

Firman Allah:

Artinya: “Mereka (para Malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa-apa yang diperintahkan”. (An-Nahl : 50).

Ayat ini tegas sekali menyatakan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas, bukan di mana-mana tempat. Karena lafadz “fawqo” (di atas) apabila di majrur dengan huruf “min” dalam bahasa Arab menunjukan akan ketinggian tempat. Dan tidak dapat di ta’wil dengan ketinggian martabat. Sebagaimana yang dikatakan kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Alangkah zhalimnya mereka ini yang selalu merubah-rubah firman Tuhan kita Allah Ta’ala.

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya tersebut : “Tidakkah kalian mendengar wahai penuntut ilmu. Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala kepada Isa bin Maryam :

Artinya: “Wahai Isa. Sesungguhnya Aku akan mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku” (Ali Imran : 55).

Ibnu Khuzaimah menerangkan: Bukankah “mengangkat” sesuatu itu dari bawah ke atas (ke tempat yang tinggi) tidak dari atas ke bawah.! Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla.

Artinya: “Tetapi Allah telah mengangkat dia (yakni Nabi Isa) kepada-Nya” (An-Nisa’ : 158).

Karena “Ar-raf’ah” = mengangkat dalam bahasa Arab yang dengan bahasa mereka kita diajak berbicara (yakni Al-Qur’an) dalam bahasa Arab yang hanya dapat diartikan dari bawah ke tempat yang tinggi dan di atas” (kitab At-Tauhid : 111).

Sekarang dengarlah wahai orang yang berakal, kisah Fir’aun bersama Nabi Allah Musa ‘Alaihis Salam di dalam kitab-Nya yang mulia, dimana Fir’aun telah mendustakan Musa yang telah mengabarkan kepadanya bahwa Tuhannya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit:

Artinya :

“Dan berkata Fir’aun: Hai Haman! Buatkanlah untukku satu bangunan yang tinggi supaya aku (dapat) mencapai jalan-jalan. (Yaitu) jalan-jalan menuju ke langit supaya aku dapat melihat Tuhan (nya) Musa, karena sesungguhnya aku mengira dia itu telah berdusta”. (Al-Mu’min : 36-37. Al-Qashash : 38).

Perhatikanlah wahai orang yang berakal.

Perintah Fir’aun kepada Haman –Menterinya pada waktu itu- untuk membuatkan satu bangunan yang tinggi supaya ia dapat jalan ke langit untuk melihat Tuhannya Musa. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Musa telah memberitahukan kepadanya bahwa Tuhannya -Allah Subhanahu wa Ta’ala- berada di atas langit-. Kalau tidak demikian, yakni misalnya Nabi Musa mengatakan bahwa Tuhannya ada dimana-mana tempat -sebagaimana dikatakan kaum Jahmiyyah- tentu Fir’aun yang disebabkan karena kekafirannya dan pengakuannya sebagai Tuhan, akan mengerahkan bala tentaranya untuk mencari Tuhannya Musa di istananya, di rumah-rumah Bani Israil, di pasar-pasar dan di seluruh tempat di timur dan di barat? Tetapi tatkala perkataannya (Fir’aun): “Sesungguhnya aku mengira dia ini berdusta !”. Yakni tentang perkataan Musa. Hal ini membuat keadaan Fir’aun telah merubah firman Allah dengan mengatakan Allah ada di segala tempat.

Ketahuilah! Bahwa pemahaman di atas telah dijelaskan panjang lebar oleh ulama.

  1. Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya “At-Tauhid” (hal : 114-115) diantara keterangannya : “Perkataan Fir’aun (sesungguhnya aku menyangka/mengira ia termasuk dari orang-orang yang berdusta) terdapat dalil bahwa Musa telah memberitahukan kepada Fir’aun :” Bahwa Tuhannya Yang Maha Besar dan Maha Tinggi berada di tempat yang tinggi dan di atas”.
  2. Berkata Imam Al-Asy’ary setelah membawakan ayat di atas : “Fir’aun telah mendustakan Musa tentang perkataannya : Sesungguhnya Allah di atas langit” (Al-Ibanah : 48).
  3. Berkata Imam Ad-Daarimi di kitabnya “Raddu ‘Alal Jahmiyyah hal : 37 Setelah membawakan ayat di atas : ” Di dalam ayat ini terdapat keterangan yang sangat jelas dan dalil yang nyata, bahwa Musa telah mengajak Fir’aun mengenal Allah bahwa Ia berada di atas langit. Oleh karena itu Fir’aun memerintahkan membuat bangunan yang tinggi”.
  4. Berkata Syaikhul Islam Al-Imam As-Shaabuny di kitabnya “Itiqad Ahlus Sunnah wa Ashabul Hadits wal A’imah ” (hal : 15) : “Bahwasanya Fir’aun mengatakan demikian (yakni menuduh Musa berdusta) karena ia telah mendengar Musa AS menerangkan bahwa Tuhannya berada di atas langit. Tidakkah engkau perhatikan perkataannya: “Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta” yakni tentang perkataan Musa : Sesungguhnya di atas langit ada Tuhan”.
  5. Imam Abu Abdillah Haarits bin Ismail Al-Muhaasiby diantara keterangannya : “Berkata Fir’aun : (Sesungguhnya aku mengira dia itu berdusta) tentang apa yang ia (Musa) katakan kepadaku : Sesungguhnya Tuhannya berada di atas langit”. Kemudian beliau menerangkan : “Kalau sekiranya Musa mengatakan : “Sesungguhnya Allah berada di tiap-tiap tempat dengan Dzatnya, nisacaya Fir’aun akan mencari di rumahnya, atau di hadapannya atau ia merasakannya, -Maha Tinggi Allah dari yang demikian- tentu Fir’aun tidak akan menyusahkan dirinya membuat bangunan yang tinggi”. (Fatwa Hamawiyyah Kubra : 73).
  6. Berkata Imam Ibnu Abdil Bar : “Maka (ayat ini) menunjukan sesungguhnya Musa mengatakan (kepada Fir’aun) : “Tuhanku di atas langit ! sedangkan Fir’aun menuduhnya berdusta”. (baca Ijtimaaul Juyusy Al-Islamiyyah hal : 80).
  7. Berkata Imam Al-Waasithi di kitabnya “An-Nahihah fi Shifatir Rabbi Jalla wa ‘Alaa” (hal : 23 cetakan ke-3 th 1982 Maktab Al-Islamy) : “Dan ini menunjukkan bahwa Musa telah mengabarkan kepadanya bahwa Tuhannya yang Maha Tinggi berada di atas langit. Oleh karena itu Fir’aun berkata : “Sesungguhnya aku mengira dia ini berdusta”.

Demikianlah penjelasan dari tujuh Imam besar di dalam Islam tentang ayat di atas, selain masih banyak lagi penjelasan-penjelasan lainnya yang menyimpulkan: “Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit di atas ‘Arsy-Nya, Ia istiwaa (bersemayam) yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

Semoga artikel ini cukup untuk menyucikan hati dan menyegarkan pemahaman kita semua, Insya Allah. Dan, jangan lupa untuk menyempatkan waktu bermain dan belajar bersama si kecil. :)

[1] Hadits shahih. Dikeluarkan oleh Jama’ah ahli hadits, diantaranya :

  • Imam Malik (Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6).
  • Imam Muslim (2/70-71)
  • Imam Abu Dawud (No. 930-931)
  • Imam Nasa’i (3/13-14)
  • Imam Ahmad (5/447, 448-449)
  • Imam Daarimi 91/353-354)
  • Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105)
  • Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya “Al-Muntaqa” (No. 212)
  • Imam Baihaqy di Kitabnya “Sunanul Kubra” (2/249-250)
  • Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di Kitabnya “Tauhid” (hal. 121-122)
  • Imam Ibnu Abi ‘Aashim di Kitab As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli hadits besar Muhammad Nashiruddin Al-Albani).
  • Imam Utsman bin Sa’id Ad-Daarimi di Kitabnya “Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah” (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah).
  • Imam Al-Laalikai di Kitabnya “As-Sunnah ” (No. 652).
Categories: Pernak-Pernik Agama
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.