Home > Catatan harian > Sungguh, Engkau Keliatan Lebih Tampan dengan Lihyah Wahai Akhi

Sungguh, Engkau Keliatan Lebih Tampan dengan Lihyah Wahai Akhi

Hemmmhh…..

Kebiasaan yang selalu saya lakukan tatkala habis cuci muka ato ambil air wudlu adalah menghadap ke cermin (sedikit berhias). Waktu yang saya habiskan di depan cermin pun tidak terlalu banyak, hanya sekedar merapikan beberapa helai bulu yang tumbuh di dagu dan dekat telinga saya. Entah sekedar menyisirnya atau mengusapnya. Ya, lihyah (jenggot) dan jambang. Tidak banyak seh, tapi juga tidak terlalu sedikit, ngepas gitu…..hehehe

Saya masih ingat saat duduk di bangku SMP dulu, sedikit demi sedikit tapi pasti, rambut di dagu dan di bawah hidung mulai tumbuh. Berbeda dengan temen-temen saya waktu itu. Awalnya pertumbuhan kumis dan jenggot saya seimbang, tapi memasuki kelas SMA. Pertumbuhan kumis makin menjadii. Nah….untuk menyeimbangkan ”posisi” maka sedikit demi sedikit kumis yang tumbuh saya potong (emang rumput apa kok dipotong) saya cukur maksudnya, iya saya cukur sedikit demi sedikit. Hasilnya….waduh makin dicukur makin menjadi hari itu juga. :D gimana ini?

Disisi lain, jenggot yang tumbuh saya biarkan begitu saja. Tumbuh secara liar.

Memasuki kuliah, saya melihat beberapa temen-temen senior yang mencukur habis kumis dan memelihara jenggot. Mereka kelihatan lebih tampan gitu. Kesannya rapi,dan jantan.hehehe…..(maklum dulu masih maba, blom tahu apa-apa, nurut aja ma senior selama itu baik). Sejak saat itu saya membuat perubahan besar dalam hidup saya. Dengan bekal nekat dan bismillah, saya cukur habis kumis yang tumbuh. Ga tersisa. Setiap kali tumbuh, cukur. Tumbuh, cukur. Tumbuh, cukur. Tumbuh. Cukur. Dan seterusnya…..untuk lihyah saya biarkan tumbuh liar.

Hasilnya, alhamdulillah….

Ada temen kajian saya (ikhwan), sampai iri melihat saya. ”akhi, jenggot antum kok bagus, panjang, rapi, dan lembut begitu ya”.begitu ujarnya.

Yes….sukses besar. :D

Seiring dengan tumbuhnya jenggot saya, sungguh saya temukan beberapa kemulian yang berkaitan dengan lihyah. Insyaallah seperti ini :

Antara hadits-hadits sahih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam yang menunjukkan wajibnya memelihara jenggot dan jambang kemudian mewajibkan orang-orang lelaki beriman supaya memotong atau menipiskan kumis mereka serta pengharaman dari mencukur atau memotong jenggot mereka ialah: “Abdullah bin Umar berkata : Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : Janganlah kamu menyerupai orang-orang Musyrikin, peliharalah jenggot kamu dan tipiskanlah kumis kamu”. HR al Bukhari, Muslim dan al Baihaqi

“Dari Abi Imamah : Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : Potonglah kumis kamu dan peliharalah jenggot kamu, tinggalkan (jangan meniru) Ahl al-Kitab”. Hadits sahih, HR Ahmad dan at Tabrani

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang berkaitan dengan larangan mencukur lihyah.

Bagi individu yang menjiwai hadits di atas pasti mampu memahami bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam melarang setiap mukmin dari meniru atau menyerupai tatacara orang-orang kafir sama ada dari golongan Yahudi, Nasrani, Majusi atau munafik. Antara penyerupaan yang dilarang oleh Rasulullah ialah berupa pengharaman ke atas setiap orang lelaki yang beriman dari mencukur jenggot dan jambang mereka. Kemudian Rasulullah melarang pula dari memelihara kumis karena dengan memelihara kumis kemudian mencukur jenggot telah menyerupai perbuatan semua golongan orang-orang kafir. Antara motif utama dari larangan Rasulullah itu ialah agar orang-orang yang beriman dapat memelihara sunnah supaya tidak mudah pupus disamping mengharamkan setiap orang yang beriman dari meniru tata-etika, amalan dan tata-cara orang-orang kafir atau jahiliah.

“Dari Ibn Umar Radiyallahu ‘anhu berkata : Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia telah menjadi golongan mereka”. HR Ahmad, Abu Daud dan at Tabrani. “Dari Abi Hurairah Radiyallahu ‘anhu: Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : Bahwasanya ahli syirik memelihara kumisnya dan memotong jenggotnya, maka janganlah meniru mereka, peliharalah jenggot kamu dan potonglah kumis kamu”. HR al Bazzar.

Sirah atau sejarah semua rasul-rasul dan nabi-nabi sampai ke sirah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam serta tarikh semua para sahabat terutama Khulafa ar Rasyidin telah diberitakan kepada kita bahwa mereka semua didapati memelihara jenggot karena mengimani dan mentaati setiap perintah agama dan berpegang kepada fitrah yang diturunkan kepada rasul yang diutus untuk mendidik dan menunjukkan mereka jalan kebenaran. Mereka yakin hanya dengan mentaati Nabi atau Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam semua aspek akan berjaya di dunia dan di akhirat. Antara kisah nabi yang terdapat di dalam al-Quran yang disebut dengan jenggot ialah kisah Nabi Harun sebagaimana firman Allah: “Harun menjawab : Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan pula kepalaku”. (QS Thaha, 20:94).

Para Isteri Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam juga suka melihat Nabi berjenggot sehingga ada yang meletakkan minyak wangi di jenggot dan jambang Nabi. Sebagaimana hadits sahih di bawah ini: “Dari Aisyah Ummul Mukminin berkata : Aku mewangikan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dengan sebaik-baik wangi-wangian pada rambut dan jenggotnya”. Muttafaq ‘alaihi. Hemmhhh….senangnya apabila si istri kita kelak memberikan wangi-wangian di jenggot dan jambang kita. Insya allah….. :D

“Berkata Anas bin Malik : Jenggot Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam didapati lebat dari sini ke sini, maka diletakkan kedua tangannya di pipinya”. HR Ibn Asyakir (dalam Tarikhnya).

Melalui keterangan yang diperolehi dari hadits sahih, atsar dan sirah (sejarah para sahabat) terbukti tidak seorangpun dari kalangan para sahabat yang mencukur jenggot mereka dan tidak seorangpun yang menghalalkan perbuatan mencukur jenggot. Ini terbukti karena didapati keseluruhan para sahabat berjenggot. Sebagaimana keterangan dari hadits-hadits di bawah ini: “Didapati Abu Bakar lebat jenggotnya, Utsman jarang (tidak lebat) jenggotnya tetapi panjang, dan Ali tebal jenggotnya”. HR Tirmidzi.

Orang-orang yang beriman tidak boleh mencontoh sikap Iblis yang enggan mematuhi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila diarah supaya sujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Iblis dilaknat karena mengingkari satu perintah Allah. Keengganan mematuhi perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam identik seperti mengingkari perintah Allah karena mentaati Rasulullah adalah asas mentaati Allah, maka mereka yang tidak mau mematuhi atau mentaati perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang diulang berkali-kali supaya memelihara jenggot dan jambang dengan alasan berjenggot itu tidak rapi, serabutan, kelihatan jelek dan sebagainya. Maka keingkaran dan alasan seperti ini ditakuti menyerupai alasan Iblis dan petanda yang mereka telah mewarisi sikap Iblis yang congkak, biadab, bangga diri dan akhirnya ia dikekalkan di neraka hanya lantaran tidak mau mematuhi satu-satunya perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu sujud kepada bapa sekalian manusia.

Nah..itu tadi sedikti penjelasan mengenai lihyah. Semoga kita semua dapat mengikuti dan memelihara sunnah-sunnah beliau, dan tidak menganggap sunnah beliau sebagai perbuatan yang kecil ataupun remeh.

Sungguh engkau kelihatan lebih ”tampan” dengan lihyah wahai saudaraku.

Sebelum saya akhiri, artikel ini. Saya punya cerita yang lumayan menggelikan. Saya punya adik dan keponakan yang masih kecil. Kira-kira usianya 3-4 tahunan lah. Lucu-lucunya. Setiap kali pulang kampung, tidak lupa saya selalu mengendong dan menciuminya. Ketika adik dan keponakan berada dalam gendongan, mereka selalu maen-maen dengan rambut-rambut yang ada di janggut saya.hu..hu..hu..hu….(ini bukan maenan deekk). Entah memegangnya atau mengusapnya, mereka kelihatan nyaman sekali dengan ”mainan” barunya. Sesekali pula mereka tersenyum puas. L

Pernah saking gemesnya, ponakannku yang sudah bisa lari kesana-kemari dengan muka polosnya medekat dan dengan tiba-tiba memegang rambut-rambut yang ada di janggut dan menariknya kebawah dengan cepat.

Sreetttttt…….

saaaaaakiiiiit. :D

Barakallahu fiikum

Categories: Catatan harian
  1. July 18, 2008 at 1:12 pm | #1

    assalamu’alaikum.

    Akhi Tejo, masalah yang saya hadapi rumit, saya kebingungan.
    Lihyah saya belum tumbuh.
    Gimana? :?

    - – -
    Making my way downtown. Walking fast. Faces pass. And I’m home bound

    assalamu’alaikum warahmatullah
    hemmm….
    punya lihyah, dan tidak (belum) tumbuh lihyah disyukuri aja akhi.

    mengharapkan jenggot tersebut tumbuh dengan sendirinya lebih baik, maka jangan mengusahakan sendiri. Karena ini bukanlah cela, karena banyak dari kita yang jenggotnya mulai tumbuh, jenggot tidak tumbuh secara serentak dan bersamaan. Maka yang seperti ini kita menunggu.
    Adapun kalau ternyata ini adalah cela,dimana kita mengetahui dan tidak punya harapan lagi untuk tumbuh dengan sendirinya, maka tidak mengapa baginya untuk menggunakan obat agar jenggot yang selebihnya bisa tumbuh.
    Sumber :
    Liqo’at Al Bab Al Maftuh oleh Asy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimah

  2. July 19, 2008 at 9:14 am | #2

    apa yang bisa saya bilang tentang janggut -karena saya seorang wanita?
    ya, pokoknya dengan janggut, para laki -laki itu jadi ada ke-khasannya….
    tapi ga tau juga deh

    …mmhhmmm
    cukuplah sekiranya ukhti memahami hukum tentang lihyah ini.
    apabila ukhti, punya adik, saudara, atau teman ukhti yang belum paham tentang lihyah.
    tafadhal, anti dapat memberikan nasehat yang anti pahami tersebut.
    barakallahu fiik

    :D

  3. July 19, 2008 at 10:19 am | #3

    Subhanallah

    meski jenggotku gak lebat
    tapi masih aku pelihara :)

    iya akhi…
    lebat-lebat_an yuk :D

    barakallahu fiikum

  4. mahfuzhoh
    July 21, 2008 at 9:36 am | #4

    Assalamu’alaykum…

    Aduh, ana salah baca nggak yach..??
    ilmu buat abi ana nich…
    gpp khan ..???

    walaikumsalam warahmatullah…
    insyaallah tidak salah baca kok ukhti
    iya, bisa untuk abi, adik ato kakak anti, saudara, temen-temen. dll.

  5. July 22, 2008 at 1:25 pm | #5

    Akhi Tej…

    Panjang mana dengan lihyah saya…?

    Sepertinya lebih lebat saya ya…???

    (bercanda akhi…)
    barakallahu fiika…

    ….hhhhmmmm……

  6. August 21, 2008 at 3:51 pm | #6

    wah teerkadang repot juga punya jenggot..( buat anak balita…)

    repot klo di minta helai demi helai tiap hari…..hekekekek

  7. November 12, 2008 at 1:14 am | #7

    Salam kenal.
    alhamdulillah buku terjemahan kami tentang jenggot sudah selesai dan baru saja di publish gratis. mau? mampir aja kermh kami di mesir, hehehe

    salam kenal juga saudaraku…
    insya Allah. saya turut berbahagia juga dengan terbitnya terjemahan buku antum. semoga mampu bernilai ibadah

  1. No trackbacks yet.